Melalui Raker, Semangat Baru KalamTV Menyongsong Perjuangan Dakwah Media di Dekade Kedua

Syaiful Falah
24 Sep 2026
457 views
No image available
Bogor (KalamTV.id) — Ketika sebagian orang masih terlelap pada pukul tiga dini hari, beberapa anak muda sudah memanggul tas liputan yang berat menuju masjid. Mereka bukan hendak berburu berita sensasional atau mengejar popularitas. Mereka sedang menyiapkan siaran kajian Subuh agar ilmu para ulama dapat sampai ke ribuan umat di berbagai pelosok negeri bahkan hingga ke mancanegara.

Di balik video kajian yang tampak sederhana di YouTube, tersimpan perjuangan yang jarang terlihat publik. Ada reporter yang setiap harinya mengangkat perlengkapan kamera, tripod, mixer, dan baterai dengan beban sekitar 10 kilogram. Belum jika ditambah peralatan lighting yang bebannya lebih berat lagi sekitar 25 kilogram. Ada kru yang harus tiba satu jam sebelum kajian Subuh dimulai demi memastikan kamera, audio, pencahayaan, dan peralatan lainnya sehingga proses liputan bisa berjalan baik.

Tak kalah mengharukan adalah perjuangan para kru wanita saat liputan otomatisasi khutbah Jumat. Di waktu yang sama ketika jamaah mulai memenuhi masjid, mereka berjibaku menyiapkan sistem live streaming, memastikan khutbah dapat disaksikan umat secara langsung tanpa gangguan teknis.

Bagi mereka, ruang kontrol menjadi medan dakwah sebagaimana mimbar menjadi tempat para khatib menyampaikan nasihat.

Itulah di antara potret perjuangan kru KalamTV, media dakwah berbasis YouTube yang selama lebih dari satu dekade konsisten mendokumentasikan kajian-kajian Islam di Bogor di bawah binaan KH Didin Hafidhuddin, ulama kharismatik asal Bogor.

Semangat itulah yang kembali dirawat dalam Rapat Kerja (Raker) KalamTV yang digelar di Agrowisata D'Sawah, Bogor, Rabu (23/9/2026). Sejak pagi hingga sore, seluruh kru bermusyawarah menyusun arah baru perjuangan dakwah media, di tengah hamparan sawah yang menghadirkan suasana teduh sekaligus menjadi ruang penyegaran setelah rutinitas liputan yang padat.

Raker diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Ali, salah seorang reporter KalamTV yang belum lama bergabung. Bacaan itu seolah menjadi pengingat bahwa seluruh kerja media ini bermula dari satu tujuan: menyebarkan kalam Allah kepada masyarakat.

Bagi KalamTV, rapat kerja bukan sekadar menyusun target jumlah penonton atau pembaca media. Ia adalah forum muhasabah sekaligus ikhtiar memperkuat dakwah di era ketika perang informasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Pimpinan KalamTV, Otto Ahmad Gozali, mengingatkan bahwa semakin besarnya amanah dakwah menuntut penguatan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas produksi.

“Raker ini harus menjadi titik balik menghadapi berbagai tantangan ke depan. Ketika pekerjaan semakin banyak, kualitas dan jumlah SDM juga harus ditambah,” ujarnya.

Saat ini, sistem liputan KalamTV kini terbagi dalam dua model. Pertama, liputan langsung yang mengharuskan reporter hadir di lokasi. Kedua, liputan otomatisasi melalui kamera yang dapat dikendalikan dari kantor secara remote pada masjid-masjid yang telah terpasang perangkat khusus.

Menurut Otto, kemampuan kru mengoperasikan sistem otomatisasi harus terus ditingkatkan agar pelayanan siaran semakin baik. “Saya harapkan ke depan tampilan kita semakin bagus. Hasil rekaman harus maksimal agar membanggakan. Harapannya semakin hari semakin baik hasil pekerjaannya,” tegasnya.

Redaktur KalamTV, Syaiful Falah, mengingatkan bahwa perjuangan dakwah hari ini telah memasuki babak baru. Menurutnya, generasi sekarang menghadapi perang generasi keempat, yaitu perang yang tidak hanya menggunakan senjata, tetapi juga perang informasi melalui kekuatan media.

“Oleh karena itu dakwah lewat media menjadi upaya yang sangat penting dan strategis agar ilmu-ilmu Islam bisa disebarkan secara luas sekaligus menjadi sarana untuk menjawab atau meluruskan berbagai isu yang merugikan umat Islam,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik yang dijalankan KalamTV bukan sekadar pekerjaan media, melainkan untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai pengemban risalah dakwah.

Karena itu, mayoritas kru KalamTV yang saat ini berasal dari kalangan Generasi Z diharapkan menjadi estafet perjuangan dakwah untuk masa depan. “Mudah-mudahan perjuangan KalamTV bisa langgeng ke depannya, dan teman-teman yang muda akan meneruskan perjuangan media dakwah ini. Dan mudah-mudahan ini menjadi investasi amal kita semua dan menghadirkan pahala yang terus mengalir,” katanya.


Memasuki sesi presentasi divisi, Reporter Senior Laode Lavinza memilih tidak berbicara soal teknik liputan. Ia justru mengajak seluruh kru menguatkan ukhuwah. Menurutnya, KalamTV telah menjelma menjadi sebuah keluarga.

Ia mengutip hadis Rasulullah bahwa kaum mukmin ibarat satu tubuh: ketika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan penderitaannya. Pesan itu menjadi penyemangat agar setiap kru saling menopang di tengah beratnya tantangan dakwah.

Semangat kolaborasi itu kemudian diterjemahkan secara teknis oleh Eldri, arsitek sistem teknologi KalamTV. Selama ini ia merancang integrasi liputan otomatis sehingga berbagai masjid dapat dikendalikan dari satu pusat kontrol, sekaligus menjadi pendamping kru ketika menghadapi persoalan teknis di lapangan.

Tantangan yang besar juga datang dari jumlah peliputan yang terus bertambah. Ulfah, koordinator peliputan, memaparkan bahwa saat ini KalamTV telah meliput lebih dari 50 majelis ilmu setiap pekan. Artinya, dalam satu bulan lebih dari 200 kajian diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat. Target berikutnya jauh lebih besar: 300 kajian setiap bulan.

Sebagai pengatur jadwal peliputan, Ulfah mengaku memiliki tantangan yang cukup besar. Di balik angka itu terdapat pekerjaan yang rumit: menyusun jadwal peliputan, memastikan kru tersedia, hingga menjalin komunikasi dengan pihak majelis taklim untuk memastikan jalannya peliputan bisa lancar tanpa gangguan.

Sementara itu, koodinator media sosial Fera Farfalla memaparkan strategi penguatan media sosial dengan target meningkatkan jumlah pengikut dan memperluas jangkauan dakwah di berbagai platform digital.

Dari tim peliput serta editor, Randika, Ali, dan Ridho berbagi pengalaman menghadapi berbagai kesulitan selama liputan. Mulai dari meliput tempat kajian yang baru dengan berbagai tantangannya hingga komitmen terus belajar agar kualitas hasil produksi semakin baik.

Sedangkan Kayla dan Lusi dari tim fundraising menyampaikan hasil kinerja mereka selama ini, menjelaskan target pendanaan ke depan dan harapan agar semakin banyak kaum dermawan atau aghniya yang ikut menopang dakwah media melalui dukungan finansial yang berkelanjutan.


Usai seluruh presentasi, kru KalamTV bermusyawarah menyusun strategi dan program kerja baru. Namun raker tidak ditutup dengan suasana formal.

Tukar kado, permainan sederhana, dan perjalanan bersama menggunakan mobil buggy mengelilingi kawasan D'Sawah menghadirkan suasana baru yang selama ini jarang dilakukan karena padatnya jadwal liputan dan produksi konten dakwah.

Di tengah hijaunya persawahan Bogor, para kru menyadari satu hal: kamera hanyalah alat, internet hanyalah sarana, tetapi dakwah adalah ruh yang menggerakkan semuanya.

Selama masih ada anak-anak muda yang rela bangun sebelum fajar, memanggul beban puluhan kilogram, mengawal siaran dari ruang kontrol, dan mengabdikan keahliannya untuk menyebarkan ilmu, maka cahaya dakwah akan terus menyala.

Dan dari sebuah saung sederhana di tengah sawah itulah, harapannya akan lahir babak baru perjuangan KalamTV sebagai media dakwah yang menyiarkan ilmu dan menguatkan persaudaraan umat Islam. (SF)

27 hari yang lalu

Bagikan artikel ini

Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial

Konten Terkait